Senin, 28 Mei 2012

Cara Membuat Paragraf Persuasif By ahmadjakfar On March 24, 2011 • Dalam membuat paragraf persuasif, yang biasanya meminta seseorang untuk melakukan sesuatu, dengan cara yang baik dan benar, terkadang sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, disini saya akan memberikan tips-tips dan cara membuat paragraf yang bisa mengajak orang untuk melakukan sesuatu yang kita inginkan. Tarik Perhatian Yang harus anda lakukan pertama kali dalam membuat paragraf persuasif ialah, pancing perhatian pembaca dengan sesuatu yang menarik. Menarik bagi pembaca, untuk membaca paragraf anda, karena sia-sia saja jika anda menulis panjang lebar, namun tidak dibaca keseluruhan oleh pembaca karena pembaca tidak/belum merasa tertarik oleh tulisan anda. Bagian awal dari paragraf adalah yang paling menentukan mood dari pembaca. Selalu buat kalimat pertama semenarik mungkin, maka pembaca akan tertarik membaca lebih lanjut tulisan anda. Buat tulisan dengan penuh percaya diri, tanpa keraguan dalam menulis dan selalu awali paragraf dengan kesan serta info yang positif. Kembangkan Ketertarikan Pembaca kadangkala, meskipun sebuah artikel diawali dengan menarik, namun belum tentu menjamin ketertarikan pembaca. Kuncinya ialah, mengapa pembaca harus membaca paragraf anda sampai habis, kalimat terakhir. Jika pada langkah awal anda sudah mencoba menarik perhatian pembaca, kembangkan ketertarikan pembaca tersebut, dengan cara anda. Misalnya dengan menjawab pertanyaan : Mengapa saya (pembaca) harus membaca tulisan ini? Apakah (tulisan) ini berpengaruh dan relevan bagi saya? Jika anda bisa menjelaskan hal tersebut dengan baik, maka anda sudah bisa menguasai separuh minat membaca mereka terhadap tulisan anda. Pengaruhi Keinginan Pembaca Dalam menyuruh/mengajak orang untuk melakukan sesuatu, sesuai dengan keinginan kita maka harus ada alasan bagi mereka (pembaca) untuk tertarik dengan ajakan kita. Misal, kita menyuruh seseorang untuk berolahraga. Jika seseorang tersebut tidak mengetahui manfaat dari olahraga, maka akan sulit mempengaruhi mereka untuk berolahraga. Lain halnya, jika seseorang tersebut mengetahui manfaat apa saja yang bisa didapatkan dari berolahraga, maka mereka dengan senang hati memenuhi perintah kita. Maka, jangan lupa, selalu sertakan alasan mereka untuk melakukan apa yang kita mau, apa manfaatnya bagi mereka. Melakukan Aksi Tiga hal diatas adalah konseptual. Skill anda akan diasah seberapa menariknya anda dalam membujuk seseorang untuk memenuhi keinginan kita. Jika itu semua telah kita lakukan, maka kini kita akan memberi tahu pembaca, tentang : bagaimana cara melakukannya?? Ya, beritahukan semua hal-hal teknis yang harus dikerjakan/dipatuhi si pembaca. Bagian ini adalah sebagai panduan yang dapat mempermudah mereka untuk bisa mengerjakan apa yang kita inginkan.
Bermain Pasir Pantai Banyak pengunjung yang datang kesini menghabiskan sebagian waktunya di pantai sambil bermain pasir. Khususnya bagi anak-anak, bermain di pasir putih Pantai Carita dilakukan sambil membuat istana pasir dan membentuk gunung. Selain anak-anak banyak remaja yang juga senang bermain pasir di sana. Mereka lebih sering membuat lubang besar dan dalam yang dapat mengubur tubuh mereka hingga sebatas leher. Kami pun tidak mau kalah dalam permainan yang cukup mengasyikan itu. Seorang temnaku membuat lubang di pasir dan masuk dengan berbaring di dalam lubang, sementara teman lainnya menguburnya hingga yang terlihat hanya kepalanya saja. Kami pun tidak menyangka, ternyata beberapa saat ”dikubur” mendekat seekor kepiting yang sedang berjalan menuju dirinya, yang akhirnya membuat kami tertawa terpingkal-pingkal melihat ”si terkubur” berteriak-teriak, kuatir jika sang kepiting akan menjepit hidungnya, hahaha….! Ombak yang Kecil dan Lembut Di sini para wisatawan diberikan kebebasan untuk berenang langsung di pantai, walaupun dibolehkan hanya sampai batas yang telah ditentukan pengelola pantai. Dengan ombak yang kecil, setiap pengunjung dapat berenang dengan aman dan nyaman kendatipun baru pertama kali berenang di pantai. Sangat mengasikan. Bagi yang ingin berenang menggunakan papan pelampung, di tempat ini banyak tersedia matras selancar dengan harga yang amat merakyat. Cukup mengeluarkan satu lembaran uang lima ribuan rupiah, Anda bisa menggunakan sepuasnya. Sungguh sangat menyenangkan jika berenang menggunakan matras selancar ini, meluncur di atas air dengan santai sambil menikmati alunan gelombang kecil sepanjang pantai. Jika ombak datang, Anda hanya perlu terlungkup di atas matras dan byurrrrr…. matras pun terbawa dorongan ombak ke tepian pantai. Kami pun mencobanya berulang-ulang, wah sungguh mengasikkan dech…, seakan tidak ingin berhenti berenang. Permainan yang Disuguhkan di Pantai Carita Setelah puas berenang dan terminum sedikit asinnya air laut, kami mencoba beberapa permainan lain yang lebih menantang. Permainan pertama yang kami coba adalah Speed Boat yang mirip sepeda motor dengan mengeluarkan biaya sebesar Rp. 150.000, untuk satu kali penyewaan selama 15 menit. Hmm… lumayan juga sich mengeluarkan biaya sebesar itu, tetapi semua terbayar dengan kenikmatan dan tantangan permainan itu. Sebelumnya, kita diberi tahu terlebih dahulu bagaimana cara menghidupkan dan mengemudikan Speed Boat jangan sampai kita kewalahan jika terjadi sesuatu pada saat kita menjalankannya. Setelah memahami semua instruksinya kami pun memakai jaket pelampung dan mulai menghidupkan mesin. Speed Boat pun mulai hidup serta jalan perlahan, pelan-kencangnya laju Speed Boat tergantung kepada tangan kita yang menarik gas, ingin pelan atau kencang. Permainan lainnya adalah Banana Boat (balon mirip pisang raksasa yang di tarik oleh perahu motor) dimana para pengunjung dibuat tegang oleh permainan ini karena jalannya yang sengaja dibuat meliuk-liuk, dan terkadang juga ditarik dengan kecepatan kencang tiba-tiba sehingga banyak penumpang Banana Boat yang terjatuh ke air berkali-kali. Anda tidak perlu takut jika tercebur ke air, karena jaket yang kita gunakan membuat tubuh ini mengambang di air. Hampir 2 jam bermain di air, kami pun semua naik kedaratan dan memesan kelapa muda. Segarnya… meminum air kelapa muda setelah beberapa kali terminum air pantai yang asin. Harga satu buah kelapa muda yang siap minum hanya Rp. 5.000. Bermalam disini pun sangat mengasyikan. Tempat untuk menginap yang tersedia cukup banyak dan bervariasi. Harga kamar permalam relatif murah, dan amat tergantung pada kepandaian tawar-menawar dengan pengelola penginapan, yang kebanyakan berupa kamar kondominium bertingkat. Kami pun mendapatkan sebuah penginapan yang cukup lengkap, dengan fasilitas 2 kamar tidur berkasur empuk, 1 kamar mandi serta pemandangan langsung ke arah pantai. Penginapan yang lebih mirip flat rumah tinggal untuk 1 keluarga ini kami sewa untuk 1 malam. Penginapan yang hanya berjarak 10-an meter dari bibir pantai ini, menyajikan suara desir ombak kecil yang menghempas ke pantai di sepanjang malam. Suasana udara sejuk, yang ketika malam semakin larut terasa dingin. Demikianlah sedikit cerita dari objek wisata Pantai Carita Pandeglang – Banten. Kesan wisata di akhir minggu yang dari awal hingga akhir sungguh mengasyikan. Yah….. mirip-mirip seperti di Pantai Sanur – Bali Kali ya….! Nama saya yemi febriant i tapi sering di panggil yerin saya berasal dari buton. Saya kelahiran 10 11 1992, umur saya sekarang 19 tahun, saya beragama islam,hobi membaca buku, makanan faforit nasi goreng, minuman kesukaan jus, warna kesukaan biru. Saya anak pertama dari enam bersaudara, saudara laki-laki saya 2 0rang dan perempuan 4 orang. Saudara ke 2 saya namanya anto, ke 3 namanya nofri, ke 4 namanya dika, ke 5 namanya arul dan yang ke 6 namanya hikma. Saya memiliki keluarga yang sangat bahagia kedua orang tua saya sangat menyayangi anak-anaknya. Saya memulai pendidikan dari SD negeri 6 talaga raya,SMP negeri 1 talaga raya,SMA negeri 1 waren, dan sekarang saya melanjutkan pendidikan di akademi kebidanan pelitu ibu kendari. Di kendari saya tinggal bersama sepupuku di jln. Hea mokodompit di loronk pelingdung. Kenapa saya melanjutkan pendidikan di akademi kebidanan pelita ibu karna saya ingin Menjadi seorng bidan, karna bidan adalah cita-cita saya sejak kecil, karna pekerjaan seorang bidan adalah pekerjaan yang mulia dengan itu saya bisa menolong ibu yang bersalin dan menolong banyak orang yang membutuhkan khususnya di bidang kesehatan.
BENTUK JURNALISTIK MEDIA CETAK Jurnalistik media cetak dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor verbal dan visual. Verbal sangat menekankan pada kemampuan kita memilih dan menyusun kata dalam rangkaian kalimat dan paragraf yang efektif dan komunikatif. Sedangkan visual menunjuk pada kemampuan kita dalam menata, menempatkan, mendesain tata letak atau hal-hal yang menyangkut segi perwajahan. Materi berita yang ingin kita sampaikan kepada pembaca memang merupakan hal yang sangat penting. Dalam perspektif jurnalistik, setiap informasi yang disajikan kepada khalayak, bukan saja harus benar, jelas dan akurat, melainkan juga harus menarik, membangkitkan minat dan selera baca (surat kabar, majalah), selera dengar (radio siaran), dan selera menonton (televisi). Karya jurnalistik harus benar dan dikemas dalam bahasa dan penyajian yang dapat menarik perhatian para pembacanya. Media cetak di Indonesia berkembang sangat pesat dalam berbagai sisi. Selain mengikuti waktu terbitnya, baik setiap pagi atau petang, harian, mingguan, bulanan ataupun sesekali menerbitkan edisi khusus, perwajahan Koran pun mengalami perubahan. Begitu pula dengan tampilan majalah. Sejak reformasi di Indonesia, banyak majalah bermunculan. Mereka mengejar kebutuhan masyarakat akan berbagai informasi, dari informasi ringan maupun informasi berat.. di berbagai majalah berita, misalnya para wartawan bukan hanya melaoprkan peristiwa yang terjadi pada public tapi juga mengejar berbagai informasi yang tersembunyi. Para wartawan dikirim meliput keberbagai situasi public, perusahaan komersial atau pemerintahan. Para reporter ditugaskan melaporkan kejahatan, bisnis, dan yang lainnya. Dan didasari kebijakan redaksi dan perusahaan yang baik, ditujukan untuk menerbitkan berbagai majalah dengan masing-masing spesifikasi target para pembacanya. 1. Surat Kabar Teknologi elektronik yang memasok televisi hampir di setiap rumah di dunia barat, ikut mendorong perkembangan proses percetakan surat kabar. Kehadiran televisi membuat permunculan Koran-koran yang dibagikan secara gratis. Iklan telah menutup biaya produksi percetakan surat kabar tersebut. Waktu terbitan surat kabarpun telah bervariasi, ada surat kabar harian dan mingguan, ada surat kabar pagi atau sore. Serta sasaran distribusinya ada yang hendak menjangkau beberapa ratus penduduk pada sebuah kota kecil dan ada pula yang memasok keseluruh rakyat pada sebuah negara, bahkan untuk seluruh orang di dunia sebagai “pasar” internasional. Sebuah surat kabar dinilai berbeda karena kesegaran berita yang disampaikan, karakteristik headline-nya, dan keanekaragaman liputan yan menyangkut berbagai topik isu dan peristiwa. Ini sangat terkait denagn kebutuhan para pembacanya, baik dari sisi menarik informasi yang diinginkan oleh pembacanya, dari surat kabar yang ingin dilangganinya. Fungsi surat kabar pun bukan sekedar pelapor kisah-kisah atau kejadian orang seorang. Setiap orang memiliki hak untuk megetahui segala pernak-pernik kejadian. Karena, dari bekal informasi itulah, setiap orang dapat turut berpartisipasi di dalam kehidupan masyarakat. Untuk mendapatkan secara kepastian informasi, setiap orang membutuhkan wartawan surat kabar, yang bertugas sebagai wakil masyarakat untuk mencari dan memberi tahu tentang segala perisiwa yang terjadi dan dibutuhkan oleh masyarakat. Karena wartawan bertanggung jawab pada kebutuhan masyarakat akan informasi yang ada di lingkungannya. Perkembangan surat kabar menurut Encyclopedia Britannica sendiri bisa di lihat dari tiga fase. Pada fase pertama yaitu para pelapor yang megawali oenerbitan surat kabar yang muncul secara sporadic dan secara gradaual kemudian menjadi penerbitan yang regural yang teratur waktu terbit dan materi pemberitaan serta khalayak pembacanya. Perkembangan masyarakat akhirnya membuat pertumbuhan surat kabar menjadi institusi penerbitan mapan yang diakui masayakat. Fase yang kedua yaitu pertumbuhan kemampuan jurnal-jurnal regular yang masih rentan terhadap berbagai tekanan masayarakat. Penyensoran terhadap berbagai subyek materi informasinya kerap diterima surat kabar. Setiap pendirian surat kabar mesti memiliki izin dari berbagai pihak yang berkuasa. Fase ketiga yaitu masa penyensoran telah tiada namun berganti dengan berbagai bentukan pengendalian. Kebebasan pers memang telah didapat. Berbagai pemberitaan sudah leluasa disampaikan. Tetapi, system kapitalisasi industry masyarakat kerap jadi pengontrol. Di lakukan antara lain melalui pengenaan pajak, penyuapan dan sanksi hukum yang di lakukan kepada berbagai media dan pelaku-pelakunya. Berdasarkan itulah kemandirian surat kabar ditentukan dalam masyarakat. 2. Majalah Perkembangan majalah memiliki beberapa tahapan menurut Encyclopedia Britannica. A. Abad ke-17 Pada masa Cina kuno pernah di terbitkan sesuatu yang menyerupai majalah, tapi majalah yang kita kenal saat ini baru di kenal semenjak ditemukannya mesin cetak di Barat. Awalnya mesin cetak tersebut di gunkan untuk membuat pamphlet, selebaran, buku-buku cerita dan kalender. Lalu secara bertahap disalurkan untuk mencatak terbitan regular dengan mengumpulkan berbagai macam bahan yang ditujukan untuk menyalurkan kepentingan masing-masing. Dan pada akhirnya majalah menempati posisi di antara buku dan surat kabar. Jenis majalah yang kebih ringan isisnya, atau berkala hiburan, pertama kali terbit pada tahun 1672, didirikan oleh seorang penulis yang bernama Jean Donneau de Vinci. B. Abad ke-18 Perkembangan di Inggris, di tandai dengan keadaan masyarakat yang telah meningkat kemampuan “melek-huruf” khususnya di kalangan perempuan. Di tambah menggejalanya kesadaran masyarakat akan hal-hal baru. Majalah member kebutuhan akan hal itu dan menampakkan kemapana oleh karenanya. Di Inggris kemapanan penerbitan majalah di pengaruhi oleh tiga essay periodicals (esai-esai berkala) yakni terbit seminggu tiga kali dan sebagai harian. C. Abad ke-19 Di awal terbitannya, berbagai majalah didesain hanya untuk kalangan terbatas. Sejak tahun 1830-an, bermuncullah majalah-majalah berharga murah, yang ditujukan kepada public yang lebih luas. Awalnya majalah ini menyajikan materi-materi yang bersifat meningkatkan, mencerahkan, dan menghibur keluarga. Tapi pada akhir abad 18, berkembang majalah-majalah popular yang semata-mata menyajikan hiburan. Di Inggris yang menjadi pelopor majalah jenis baru ini adalah Charles Knight. Dan muncul pula berbagai penerbitan majalah serially yang dipenuhi oleh gambar-gambar ilustrasi. Pada akhir abad ke-19, penerbitan majalah mengalami peningkatan pasar. Masyarakat mendapatkan banyak informasi dan hiburan. Di AS, penerbitan majalah terjadi setelah ekspansi besar-besaran pasca perang sipil, juga berkat meningkatnya kecepatan pengiriman majalah lewat pos. D. Abad ke-20 Pada awalnya iklan sangat di tentang oleh berbagai majalah. Alasannya menjaga nilai-nilai satrawi (kesusastraan) dipakai sebagai penguat penolakan. Di Inggris, ketika pajak iklan diturunkan, pada tahun 1853, dan para pemasang iklan mulai menyerbu, berbagai pengelola majlah di antaranya memasang argumen, “tugas dari suatu jurnal yang mandiri ialah melindungi sejauh mungkin untuk mudah percaya, meyakini, dan tak waspada pada kepintaran (tersembunyi)pemasang iklan”. Di Amerika, banyak majalah juga seperti itu, misalnya memasang ketatnya aturan pada para pengiklan. Akan tetapi, iklan sudah menjadi tenaga industry media. Penerbitan majalah, sebagian besarnya, termasuk medium yang di dorong oleh iklan. Majalah berita Time, yang diterbitkan tahun 1923 oleh Briton Hadden dan Henry Luce. Majalah Time setiap minggunya menulis ulang berbagai berita untuk penduduk pedesaan. Ia menjiplak pemadatan (mengintisarikan) model majalah Digests dan majalah saku. Tetapi Time adalah yang pertama-tama menyajikan secara ringkas dan sistematis segala berita di seluruh dunia. Ia memakai dasar pandangan bahwa “masyarakat menjadi tuna berita karena ketiadaan publikasi yang mau mengadaptasi kesibukan orang-orang yang hanya memiliki waktu sedikit untuk membaca berita”. Semua itu mula-mula dikerjakan secara amatiran dan banyak kesulitan. Hadden dan Luce tidak punya banyak pengalaman saat mulai meringkas berita dari kumpulan surat-surat kabar harian. Tetapi usaha tersebut menanjak pasti, menemukan pasarnya di kalangan alumni perguruan tinggi yang jumlahnya membengkak. Selain majalah berita, ada pula jenis pocket magazine (majalah-majalah saku), specialized magazines (majalah-majalah khusus), serta majalah-majalah scholarly (ilmiah), cultural (kebudayaan), dan literary (kesusastraan). Di Indonesia, masyarakat mengenalnya lewat majalah intisari yang berisi berbagai feature ringan tentang berbagai kisah kehidupan. Majalah-majalah specialized mengisi pula perkembangan dunia penerbitan majalah. Di tengah peningkatan sirkulasi majalah-majalah umum, beredar pula majalah-majalah yang melayani minat-minat khusus masyarakat. Majalah jenis ini diklasifikasikan kedalam tema-tema materi professional (seperti perdagangan dan teknikal) dan jurnal-jurnal nonprofessional. Sejumlah Kategori Majalah Berikut adalah kategori majalah, menurut Encyclopedia Britannica: 1. Majalah umum. Majalah ini berisi berbagai macam hal dan ditujukan tidak pada segmen tertentu. Contohnya adalah majalah Reader’s Digest atau intisari. 2. Majalah-majalah berkualitas. Majalah ini menawarkan artikel-artikel yang khusus. Kualitas artikelnya tidak bisa dipublikasikan dimana saja. Kualitas artikelnya tidak termasuk dalam kategori biasa-biasa saja. Contohnya adalah National Geograpic. 3. Majalah penerbangan. Sejenis majalah internal yang ditujukan kepada para penumpang pesawat terbang. Majalah jenis ini masih satu rumpun dengan majalah umum. Sifat internal majalah ini menyebabkan isi materinya disesuaikan dengan profil penumpang pesawat terbang, dikarenakan kebanyakan penumpang pesawat itu berprofesi sebagai pengusaha, maka umumnya artikel yang disajikan tidak terlepas dari tema bisnis dan hiburan. 4. Majalah berita. Merupakan satu bentuk publikasi yang mengombinasikan unsur aktualitas peristiwa mingguan dengan peliputan mendalam dan penulisan feature mingguan personal. Isi majalahnya kebanyakan ditulis dengan menggunakan pendekatan feature. 5. Divisi majalah dalam Koran. Ini adalah majalah yang diterbitkan sejumlah surat kabar kepada pelanggan mereka yang memiliki minat dan perhatian tertentu. Umumnya majalah seperti ini berisi sketsa sosok-sosok penduduk local, lembar-lembar peristiwa dan sejarah, renungan pemikiran, peristiwa budaya, tentang kebun dan tentang kiat bisnis. 6. Majalah kota. Berkembang seiring dengan matinya majalah-majalah bersirkulasi nasional. Yang ditawarkan majalah kota adalah artikel-artikel survival untuk menghadapi problematika kota besar, ditambah sajian-sajian entertaint. 7. Majalah religius. Majalah ini memuat artikel-artikel keagamaan jenisnya cukup bervariasi mulai dari majalah bergaris keras-fundamentalis sampai yang bentuk lunak-kompromistis. 8. Majalah pria. Majalah khusus yang berbicara tentang hobi para pria seperti bertualang dan memancing. 9. Majalah wanita. Materinya mulai dari yang menawarkan tips-tips dapur hingga majalah yang diisi oleh aktivis feminis yang menuntut persamaan. 10. Shelter magazine. Ditujukan kepada khalayak yang menaruh minat pada hal-hal yang berkaitan dengan rumah, pertanaman, berkebun, dekorasi interior atau berbagai aktivitas rumah lainnya. 11. Majalah pertanian. Berisi artikel yang berkisar pada topic pertanian atau peternakan, berkebun dan menanam bunga. 12. Majalah olahraga. Tema berita maupun ulasan dan artikel berkisar pada olahraga dan aktivitas fisik di luar ruangan. 13. Jurnal perdagangan. Karena ditujukan untuk kepentingan bisnis, artikelnya pun kebanyakan berkisar soal bisnis dan ekonomi. 14. Majalah perusahaan. Ada yang ditujukan untuk khalayak umum, ada pula yang diterbitkan sekedar untuk memenuhi kebutuhan perusahaan menjalin kontak antar anggota. Para pengelolanya mendasarkan isinya kepada kepentngan public relations dari kelembagaan yang menerbitkannya. 15. Majalah fraternal-organisasi persaudaraan. Diterbitkan untuk kepentingan organisasi. Berisi materi yang melibatkanpara anggota dalam proyek-proyek organisasi. 16. Majalah opini. Berisi berbagai artikel opini. Misalnya, majalah yang bervisi politik tertentu. 17. Publikasi alternatif. Cakupan isinya di mulai dari minat yang sempit dengan format sederhana, namun tak tertutup kemungkinan jika di sukai public dan berkembang menjadi besar. 18. Majalah khusus lainnya. Majalah ini meliputi pertumbuhan dari kebutuhan, minat dan perhatian masyarakat yang dari hari ke hari kian bertambah sesuai dengan peningkatan hidup keseharian yang dikehendaki masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2005 Septiawan Santana K. Jurnalisme Kontemporer, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005

pengertian paragraf deskripsi

Paragraf Deskripsi Paragraf deskripsi adalah paragraf yang menggambarkan sesuatu dengan jelas dan terperinci. Paragraf deskrispi bertujuan melukiskan atau memberikan gambaran terhadap sesuatu dengan sejelas-jelasnya sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat, mendengar, membaca, atau merasakan hal yang dideskripsikan. Contoh : keadaan banjir, suasana di pasar Menandai Ciri-ciri Paragraf Deskripsi Bacalah dua kutipan di bawah ini! Contoh : Malam itu, indah sekali. Di langit, bintang – bintang berkelip – kelip memancarkan cahaya. Hawa dingin menusuk kulit. Sesekali terdengar suara jangkrik, burung malam, dan kelelawar mengusik sepinya malam. Angin berhembus pelan dan tenang. Paragraf deskripsi mempunyai ciri-ciri yang khas, yaitu bertujuan untuk melukiskan suatu objek. Dalam paragraf deskripsi, hal-hal yang menyentuh pancaindera (penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, atau perabaan) dijelaskan secara terperinci. Inilah ciri-ciri paragraf deskripsi yang menonjol, seperti dalam kutipan 1. Ciri yang kedua adalah penyajian urutan ruang. Penggambaran atau pelukisan berupa perincian disusun secara berurutan; mungkin dari kanan ke kiri, dari atas ke bawah, dari depan ke belakang, dan sebagainya, seperti dalam contoh Ciri deskripsi dalam penggambaran benda atau manusia didapat dengan mengamati bentuk, warna, dan keadaan objek secara detil/terperinci menurut penangkapan si penulis. ….seorang gadis berpakaian hitam….. ….tiga lelaki tanpa alas kaki…. Dalam paragraf deskripsi, unsur perasaan lebih tajam daripada pikiran. ….bersama terpaan angin yang lembut….. Paragraf Deskripsi Deskripsi adalah salah satu jenis karangan yang melukiskan suatu objek sesuai dengan keadaan yang sebenarnya sehingga pembaca dapat melihat, mendengar, merasakan, mencium secara imajinatif apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dicium oleh penulis tentang objek yang dimaksud. Contoh Gadis kecil itu. Ia terus memandangi lautan yang biru. Gulungan riak-riak kecil tak membuatnya bergeming. Hembusan hawa pantai nan panas, tak membuat matanya beralih dari laut. Air pantai terus menyapu lembut kulit kakinya. Deburan suara ombak mengisiki telinganya. Hari itu langit tak berawan. Ia terus memandangi laut. Laut yang semakin biru sampai ambang cakrawala.Ia memandangi nelayan yang tengah menepi. Memandangi pulau kecil nan jauh di seberang sana. Ia benci laut! Gadis itu benci laut, karena di sanalah kedua orang tuanya meninggal. Pengertian Paragraf Deskriptif Perhatikan dengan cermat gambar pemandangan di samping! Setelah Anda mengamati pemandangan tersebut, apa yang Anda lihat? Kira-kira apa yang Anda rasakan? Bagaimana suara-suara di sekitar alam tersebut? Kira-kira bau apa yang Anda rasakan? Sekarang, hasil pengamatan Anda tersebut, cobalah ungkapkan dalam sebuah tulisan berbentuk paragraf yang terdiri atas beberapa kalimat. Jika sudah, coba bandingkan tulisan Anda dengan Contoh berikut Contoh : Pemandangan alam di tempat wisata itu indah sekali. Pohon-pohon di sekitar tebing tampak hijau dan tumbuh dengan subur. Dari sela-sela tebing keluar air terjun dengan deras. Warnanya putih seperti kapas. Suaranya menggema ke angkasa menutupi suara burung-burung berkicau. Kemudian, membentuk aliran sungai yang bening. Batu-batu besar tampak hitam menghiasi sungai. Rerumputan terhampar hijau menambah suasana menjadi tambah sejuk. Angin bertiup menyebarkan aroma bunga liar yang tumbuh di sekitar itu. Berdasarkan paragraf yang telah Anda baca, tentu Anda dapat menjelaskan pengertian paragraf deskriptif, yakni sebuah tulisan yang isinya bertujuan memberi gambaran suatu objek kepada pembaca secara rinci dan jelas tanpa disertai pendapat penulis terhadap objek tersebut. Dengan kata lain paragraf deskripsi adalah karangan yang menggambarkan sesuatu benda, tempat, suasana atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat, mendengar, mencium,dan merasakan apa yang dirasakan oleh penulis.  Ciri-ciri Paragraf Deskriptif Untuk memahami ciri-ciri paragraf deskriptif, coba Anda baca kembali paragraf yang tersaji. Pemandangan alam di tempat wisata itu indah sekali. Pohon-pohon di sekitar tebing tampak menghijau dan tumbuh dengan subur. Dari sela-sela tebing keluar air terjun dengan deras. Warnanya putih seperti kapas. Suaranya menggema ke angkasa menutupi suara burung-burung berkicau. Kemudian, membentuk aliran sungai yang bening. Batu-batu besar tampak hitam menghiasi sungai. Rerumputan terhampar hijau menambah suasana menjadi tambah sejuk. Angin bertiup menyebarkan aroma bunga liar yang tumbuh di sekitar itu. Setelah Anda memahami isi paragraf deskriptif tersebut, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri paragraf deskriptif adalah Karangan yang melukiskan sesuatu sehingga tergambar: 1. Mata melihat apa? 2. Hidung mencium apa? 3. Kuping mendengar apa? 4. Mulut merasakan apa? 5. Kulit merasakan apa?  Paragraf Deskripsi * Pengertian adalah jenis paragraf yang menggambarkan sesuatu dengan jelas dan terperinci * Tujuan melukiskan atau memberikan gambaran terhadap sesuatu dengan sejelas-jelasnya sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat, mendengar, membaca, atau merasakan hal yang dideskripsikan * Ciri-Ciri Paragraf Deskripsi 1. Menggambarkan atau melukiskan sesuatu 2. Penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan indera 3. Membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri 4. Pola Pengembangan 5. Pola pengembangan spasial yaitu pola pengembangan paragraf yang didasarkan ruang dan waktu 6. Pola pengembangan sudut pandang atau objektif adalah pola pengembangan paragraf yang didasarkan tempat dan posisi seorang penulis dalam melihat sesuatu * Ciri-Ciri Pola Spasial 1. Penulis bisa menggambarkan suatu ruangan dari kiri ke kanan, timur ke barat, bawah ke atas, depan ke belakang 2. Penggambaran suasana suatu lingkungan (pagi, siang, sore, malam) * Ciri-Ciri Pola sudut pandang/objektif Dalam pola ini penggambaran berpatokan pada posisi atau keberadaan penulis terhadap objek yang digambarkannya itu. Misalnya menggambarkan benda demi benda yang terdapat dalam tempat itu, yakni mulai dari yang terdekat sampai yang terjauh * Langkah Menyusun Paragraf Deskripsi 1. Tentukan objek atau tema yang akan dideskripsikan 2. Tentukan tujuan 3. Mengumpulkan data dengan mengamati objek yang akan dideskripsikan 4. Menyusun data tersebut ke dalam urutan yang baik (menyusun kerangka karangan) 5. Menguraikan kerangka karangan menjadi deskripsi yang sesuai dengan tema yang ditentukan * Contoh pola spasial Pada malam hari, pemandangan rumah terlihat begitu eksotis. Apalagi dengan cahaya lampu yang memantul dari seluruh penjuru rumah. Dari luar bangunan ini tampak indah, mampu memberikan pancaran hangat bagi siapa saja yang memandangnya. Lampu-lampu taman yang bersinar menambah kesan eksotis yang telah ada. Begitu hangat dan indah. * Contoh: Kamar itu, menurut penglihatan saya, sangatlah besar dan bagus. Sebuah tempat tidur besi besar dengan kasur, bantal, guling, dan kelambu yang serba putih, berenda dan berbunga putih, berada di kamar dekat dinding sebelah utara. Kemudian, satu cermin oval besar tergantung di dinding selatan. Di kamar itu juga ada lemari pakaian yang amat besar terbuat dari kayu jati. Lemari kokoh itu tepat berada di samping pintu kamar. • Pengertian Paragraf Deskriptif Perhatikan dengan cermat gambar pemandangan di samping! Setelah Anda mengamati pemandangan tersebut, apa yang Anda lihat? Kira-kira apa yang Anda rasakan? Bagaimana suara-suara di sekitar alam tersebut? Kira-kira bau apa yang Anda rasakan? Sekarang, hasil pengamatan Anda tersebut, cobalah ungkapkan dalam sebuah tulisan berbentuk paragraf yang terdiri atas beberapa kalimat. Jika sudah, coba bandingkan tulisan Anda dengan Contoh berikut. Contoh : Pemandangan alam di tempat wisata itu indah sekali. Pohon-pohon di sekitar tebing tampak hijau dan tumbuh dengan subur. Dari sela-sela tebing keluar air terjun dengan deras. Warnanya putih seperti kapas. Suaranya menggema ke angkasa menutupi suara burung-burung berkicau. Kemudian, membentuk aliran sungai yang bening. Batu-batu besar tampak hitam menghiasi sungai. Rerumputan terhampar hijau menambah suasana menjadi tambah sejuk. Angin bertiup menyebarkan aroma bunga liar yang tumbuh di sekitar itu. Berdasarkan paragraf yang telah Anda baca, tentu Anda dapat menjelaskan pengertian paragraf deskriptif, yakni sebuah tulisan yang isinya bertujuan memberi gambaran suatu objek kepada pembaca secara rinci dan jelas tanpa disertai pendapat penulis terhadap objek tersebut. Dengan kata lain paragraf deskripsi adalah karangan yang menggambarkan sesuatu benda, tempat, suasana atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat, mendengar, mencium,dan merasakan apa yang dirasakan oleh penulis.  Menyusun kerangka karangan Kerangka karangan adalah garis besar dari hal-hal yang hendak ditulis. Dengan kerangka, penulis dimudahan untuk menuangkan ide secara sistematis, terarah, dan kemungkinan mendapatkan kelengkapan materi. Kerangka paragraf deskriptif harus menggambarkan keadaan atau suasana suatu objek yang akan dideskripsikan. Contoh menyusun kerangka. Topik : Suasana Malam Kerangka paragraf: 1. malam indah 2. bintang bertaburan 3. udara dingin 4. suara burung hantu bersahut-sahutan 5. bulan memancarkan sinarnya 6. tidak ada yang lewat Pengembangan: Malam itu indah sekali. Bintang-bintang di langit bertaburan dengan memancarkan cahaya yang kelap-kelip. Udara dingin menggigit tubuhku. Suara burung hantu bersahut-sahutan membuat bulu kudukku merinding. Bulan memancarkan sinarnya ke seluruh alam semesta. Tidak ada seorang pun yang lewat di sekitarku. Setelah Anda baca paragraf tersebut, Anda akan mengetahui bahwa kata-kata yang tercetak tebal merupakan kerangka paragraf, sedangkan kata-kata yang dicetak biasa merupakan pengembangan kerangka tersebut.  Paragraf Deskripsi adalah jenis paragraf yang menggambarkan sesuatu dengan jelas dan terperinci. Cara membuat paragraph deskripsi adalah: 1.Menentukan Tema 2.Menentukan Tujuan Penulisan 3.Menganalisis apa yang akan ditulis terlebih dahulu 4.Membuat Kerangka 5.Menjelaskan Kerangka kerangka yang telah disusun,sehingga menjadi sebuah kalimat atau paragraf yang baik. Pola paragraf deskripsi antara lain meliputi pola pengembangan spasial dan pola sudut pandang: a. Pola Spasial Pola Spasial adalah pola pengembangan paragraph yang didasarkan atas ruang dan waktu. Dengan teratur,penulis menggambarkan suatu ruangan dari kiri ke kanan,dari timur ke barat,dari bawah ke atas,dari depan ke atas,dari depan ke belakang,dan sebagainya. Uraian tentang kepadatan penduduk suatu daerah dapat dikemukaan dengan landasan urutan geografis(misalnya : dari barat ke timur atau dari Timur ke selatan).Deskripsi mengenai sebuah gedung bertingkat dapat dilakukan dari tingkat pertama berturut turut hingga tingkat terakhir,penggambaran terhadap suasana suatu lingkungan dapat dilakukan mulai dari siang,sore,hingga malamhari. Contohnya : Pada malam hari,pemandangan rumah terlihat begitu eksostis.Apalagi dengan cahaya lampu yang memantul dari seluruh penjuru rumah.Dari luar bangunan ini tampak indah,mampu memberikan pancaran hangat bagi siapa saja yang memandangnya.Lampu lampu taman yang bersinar menambah kesan eksostis yang telah ada.Begitu hangat Begitu Indah. b. Pola Sudut Pandang Pola Sudut Pandang adalah pola pengembangan paragraph yang didasarkan tempat atau posisi seorang penulis dalam melihat sesuatu. Pola sudut pandang tidak sama dengan pola Spasial.Dalam Pola ini penggambaran berpatokan pada posisi atau keberadaan penulis terhadap obyek yang digambarkannya itu. Untuk menggambarkan suatu tempat atau keadaan,pertama tama penulis mengambil sebuah posisi tertentu.Kemudian,secara perlahan lahan dan berurutan,ia menggambarkan benda demi benda yang terdapat ditempat itu,yakni mulai dari yang dekat hingga yang terjauh. Contohnya: Sekarang hanya beberapa langkah lagi jarak mereka dari tebing di atas jalan.Medasing menegakkan dirinya sambil mengasai ke muka dan ia pun berdiri tiada bergerak sebagai pohon diantara pohon pohon yang lain.Oleh isyarat yang labih terang dari perkataan itu maju sekalian temannya sejajar dengan dia. Diantar daun kayu tampak kepada mereka tebing itu turun kebawah,di kakinya tegak pondok,sunyi mati,tak sedikit jua pun kentara,bahwa dia melindungi manusia yang hidup,pandai bergerak dan bersuara.Di bawahnya kedengaran sebentar sebentar sapi mendengus dan binatang binatang itupun kelihatan kekabur kaburan dalam sinar bara yang kusam.Dari celah celah dinding pondok keluar cahaya yang kuning merah,tetapi tiada berupa jauh sinar yang halus itu lenyap dibalut oleh kelam yang maha kuasa.Di keliling pondok itu tertegak pedani ketiganya sunyi dan sepi pula. Karakteristik paragraph Deskrepsi sebagai berikut: a. Dalam paragraph deskrepsi dikemukakan hal-hal yang menyentuh pancaindra(penglihatan,pendengaran,penciuman,pengecap,atau peraba) b. Karakteristik yang kedua yaitu menyajikan urutan ruang.Penggambaran atau pelukisan berupa rincian yang tersusun berurutan,mungkin dari kanan ke kiri,dari depan ke belakang,dan sebagainya. c. Karakteristik deskripsi dalam penggambaran benda atau manusia yaitu dengan mengamati secara detail atau rinci mengenai bentuk,warna,keadaan obyek menurut penagkapan alat indra penulis. d. Dalam paragraph deskripsi unsure perasaan lebih tajam daripada pikiran. Ciri ciri Paragraf Deskripsi anatara lain sebagi berikut: *~* Menerangkan tentang suatu obyek. *~* Bersifat Menerangkan(menggambarkan) *~* Memiliki tujuan agar para pembaca seperti melihat barang yang sedang dibaca *~* Paragraph Deskripsi mempunyai dasar Penelitian 1. Deskriptif sugestif Jenis karangan ini berusaha untuk menciptakan suatu penghayatan terhadap objek melalui imajinasi para pembaca. Pengalaman atas objek itu harus menciptakan kesan atau interprestasi. Rangkaian kata-kata yang dipilih oleh penulis untuk menggambarkan ciri, sifat, atau watak objek tersebut diciptakan sugesti tertentu pada pembaca. Dengan kata lain deskripsi sugestif berusaha untuk menciptakan suatu penghayatan terhadap objek melalui imajinasi para pembaca. Misalnya, deskripsi tentang keadaan di hutan yang sepi dan terdengar bunyi-bunyi atau suara binatang, ketenangan sebuah dusun. Contoh : Gedung sekolah ini terletak di tepi jalan, tetapi tidak terasa bising. Kelas-kelasnya jauh dari jalan dan kendaraan tidak terlalu banyak yang lewat ke sana. Bangunan kuno yang berdiri sejak lima puluh tahun lampau ini, kini masih terlihat kokoh karena terpelihara dan terawat dengan baik. Pohon-pohon besar mengelilingi gedung sekolah itu membuat udara sejuk di sekitar itu.  2. Deskriptif teknis atau ekspositoris. Deskripsi teknis atau ekspositoris menciptakan agar pembaca dapat mengenalinya bila bertemu atau berhadapan dengan suatu objek. Misalnya, deskripsi tentang keadaan suatu ruang atau tempat. Contoh : Kamar tidurku tidaklah luas hanya berukuran 3 x 4. Semua barang-barang tertata rapi di dalamnya. Tempat tidur diletakkan di pojok kanan dari pintu masuk. Meja belajar ditata di depan jendela. Sedangkan lemari pakaian diletakkan di sebelah kiri tempat tidur. CONTOH PARAGRAF DESKRIPSI, EKSPOSISI, ARGUMENTASI, NARASI, DAN PERSUASI A. Deskripsi Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal/keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut. Karangan deskripsi memiliki ciri-ciri seperti: Menggambarkan atau melukiskan sesuatu. Penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera. Membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri. Pola pengembangan paragraf deskripsi: Paragraf Deskripsi Spasial, paragraf ini menggambarkan objek kusus ruangan, benda atau tempat. Paragraf Deskripsi Subjektif, paragraf ini menggambarkan objek seperti tafsiran atau kesan perasaan penulis. Paragraf Deskripsi Objektif, paragraf ini menggambarkan objek dengan apa adanya atau sebenarnya. Contoh Paragraf: Siang itu aku sedang duduk santai di sofa empuk di dalam apotik milikku yang baru saja dibuka. Apotik ini adalah impianku sejak aku kuliah di Farmasi dulu. Sekarang aku memandang puas pada usahaku selama ini. Aku bisa mendirikan apotik di kota kelahiranku. Apotik ini cukup luas, beberapa rak besar tempat obat-obatan berjejer rapi dengan kemasan-kemasan obat warna-warni yang dikelompokkan menurut farmakologinya dan disusun alfabetis. Pandangan saya tertuju pada rak buku di pojok ruangan yang berisi buku-buku tebal. Ku ambil satu buku yang disampulnya tertulis Informasi Spesialis Obat atau yang biasa disebut kalangan farmasi dengan buku ISO. Setelah ku pandangi aku tersenyum dan mengembalikannya ke tempat semula. buku ini adalah buku pertama yang kubeli saat aku kuliah dulu. Aku memandang lagi secara keseluruhan apotik ini, sebuah televisi 14 inci dan sebuah computer di meja kasir. Hembusan angin dari AC cukup membuat udara terasa sejuk di bulan Mei yang panas ini. B. Eksposisi Paragraf eksposisi adalah paragraf yang bertujuan untuk memaparkan, menjelaskan, menyampaikan informasi, mengajarkan, dan menerangkan sesuatu tanpa disertai ajakan atau desakan agar pembaca menerima atau mengikutinya. Ciri-ciri paragraf eksposisi: Paragraf eksposisi adalah paragraf yang bertujuan untuk memaparkan, menjelaskan, menyampaikan informasi, mengajarkan, dan menerangkan sesuatu tanpa disertai ajakan atau desakan agar pembaca menerima atau mengikutinya. Ciri-ciri paragraf eksposisi: a. Memaparkan definisi (pengertian). b. Memaparkan langkah-langkah, metode, atau cara melaksanakan suatu kegiatan. Contoh: Paragraph 1 (a) Ozone therapy adalah pengobatan suatu penyakit dengan cara memasukkan oksigen murni dan ozon berenergi tinggi ke dalam tubuh melalui darah. Ozone therapy merupakan terapi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, baik untuk menyembuhkan penyakit yang kita derita maupun sebagai pencegah penyakit. Paragraph 2 (b) Pernahkan Anda menghadapi situasi tertentu dengan perasaan takut? Bagaimana cara mengatasinya? Di bawah ini ada lima jurus untuk mengatasi rasa takut tersebut. Pertama, persipakan diri Anda sebaik-baiknya bila menghadapi situasi atau suasana tertentu; kedua, pelajari sebaik-baiknya bila menghadapi situasi tersebut; ketiga, pupuk dan binalah rasa percaya diri; keempat, setelah timbul rasa percaya diri, pertebal keyakinan Anda; kelima, untuk menambah rasa percaya diri, kita harus menambah kecakapan atau keahlian melaluin latihan atau belajar sungguh-sungguh. Sumber : www.telukbone.org C. Argumentasi Karangan argumentasi adalah jenis paragraf yang mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat penulis dengan disertai bukti dan fakta (benar-benar terjadi). Tujuannya adalah agar pembaca yakin bahwa ide, gagasan, atau pendapat tersebut adalah benar dan terbukti. Ciri-ciri karangan argumentasi: Menjelaskan pendapat agar pembaca yakin. Memerlukan fakta untuk pembuktian berupa gambar/grafik, dan lain-lain. Menggali sumber ide dari pengamatan, pengalaman, dan penelitian. Penutup berisi kesimpulan. Contoh: Mempertahankan kesuburan tanah merupakan syarat mutlak bagi tiap-tiap usaha pertanian. Selama tanaman dalam proses menghasilkan, kesuburan tanah ini akan berkurang. Padahal kesuburan tanah wajib diperbaiki kembali dengan pemupukan dan penggunaan tanah itu sebaik-baiknya. Teladan terbaik tentang cara menggunakan tanah dan menjaga kesuburannya dapat kita peroleh pada hutan yang belum digarap petani. Sumber : www.publicopinion.com D. Narasi Menurut Keraf (2000:136), ciri karangan narasi yaitu: Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan. Dirangkai dalam urutan waktu. Berusaha menjawab pertanyaan, apa yang terjadi? Ada konfliks. Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita. Alur ini tidak akan menarik jika tidak ada konfiks. Selain alur cerita, konfiks dan susunan kronologis, ciri-ciri narasi lebih lengkap lagi diungkapkan oleh Atar Semi (2003: 31) sebagai berikut: 1. Berupa cerita tentang peristiwa atau pengaalaman penulis. 2. Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya. 3. Berdasarkan konfiks, karena tanpa konfiks biasanya narasi tidak menarik. 4. Memiliki nilai estetika. 5. Menekankan susunan secara kronologis. Ciri yang dikemukakan Keraf memiliki ciri berisi suatu cerita, menekankan susunan kronologis atau dari waktu ke waktu dan memiliki konfiks. Perbedaannya, Keraf lebih memilih ciri yang menonjolkan pelaku. Jenis-jenis Karangan Narasi a. Narasi Ekspositorik (Narasi Teknis) Narasi Ekspositorik adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang. Dalam narasi ekspositorik, penulis menceritakan suatu peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya. Pelaku yang ditonjolkan biasanya satu orang. Pelaku diceritakan mulai dari kecil sampai saat ini sampai terakhir dalam kehidupannya. Karangan narasi ini diwarnai oleh eksposisi, maka ketentuan eksposisi juga berlaku pada penulisan narasi ekspositorik. Ketentuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan unsur sugestif atau bersifat objektif. b. Narasi Sugestif Narasi sugestif adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat. Contoh: a. Narasi ekspositoris Siang itu, Sabtu pekan lalu, Ramin bermain bagus. Mula-mula ia menyodorkan sebuah kontramelodi yang hebat, lalu bergantian dengan klarinet, meniupkan garis melodi utamanya. Ramin dan tujuh kawannya berbaris seperti serdadu masuk ke tangsi, mengiringi Ahmad, mempelai pria yang akan menyunting Mulyati, gadis yang rumahnya di Perumahan Kampung Meruyung. Mereka membawakan lagu “Mars Jalan” yang dirasa tepat untuk mengantar Ahma, sang pengantin…. Sumber : Tempo, 20 Februari 2005 dari alamat website www.scribd.com b. Narasi sugestif Patih Pranggulang menghunus pedangnya. Dengan cepat ia mengayunkan pedang itu ke tubuh Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelum mengenai tubuh Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelum mengenai tubuh Tunjungsekar, pedang itu jatuh ke tanah. Patih Pranggulang memungut pedang itu dan membacokkan lagi ke tubuh Tunjungsekar. Tiga kali Patih Pranggulang melakukan hal itu. Akan tetapi semuanya gagal. Sumber : Terampil Menulis Paragraf 2004: 66 dari alamat website www.scribd.com Contoh lain : Kemampuan apresiasi musik pada seorang anak dapat dibentuk melalui tiga cara. Pertama, secara alamiah seseorang dibiasakan mendengarkan karya musik. Kebiasaan itu dimulai sejak anak masih berupa janin dalam rahim ibunya. Persentuhan emosi sang ibu dengan berbagai irama yang didengarkan akan ikut dirasakan oleh janin. Besar kemungkinan akan terjadi respons motorik janin yang dirasakan oleh sang ibu. Kedua, sejak anak dilahirkan ia dibiasakan dengan berbagai irama musik yang mengiringnya pada saat menjelang tidur atau bermain. Alat pendengar anak menjadi peka menangkap berbagai irama dari instrumen musik yang didengarnya. Lambat-laun, seiring dengan pertumbuhan fisik dan kognisinya, musik akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan anak. Ketiga, apresiasi musik dikembangkan melalui pendidikan formal. Untuk itu, pendidikan musik diarahkan kepada pengenalan, pemahaman, penghayatan, dan sikap kritis serta kreatif terhadap karya musik. E. Persuasi Paragraf persuasif adalah suatu bentuk karangan yang bertujuan membujuk pembaca agar mau berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan penulisnya. Agar tujuannya dapat tercapai, penulis harus mampu mengemukakan pembuktian dengan data dan fakta. Contoh: Sistem pendidikan di Indonesia yang dikembangkan sekarang ini masih belum memenuhi harapan. Hal ini dapat terlihat dari keterampilan membaca siswa kelas IV SD di Indonesia yang berada pada peringkat terendah di Asia Timur setelah Philipina, Thailand, Singapura, dan Hongkong. Selain itu, berdasarkan penelitian, rata-rata nilai tes siswa SD kelas VI untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA dari tahun ke tahun semakin menurun. Anak-anak di Indonesia hanya dapat menguasai 30% materi bacaan. Kenyataan ini disajikan bukan untuk mencari kesalahan penentu kebijakan, pelaksana pendidikan, dan keadaan yang sedang melanda bangsa, tapi semata-mata agar kita menyadari sistem pendidikan kita mengalami krisis. Oleh karena itu, semua pihak perlu menyelamatkan generasi mendatang. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem pendidikan nasional. Sumber : Kompas,14 Mei 2009 dengan perubahan seperlunya Contoh 2: Kita semua mengetahui bahawa kondisi lingkungan Kota Jakarta sudah sangat memprihatinkan. Banyak sekali sungai yang kotor akibat pembuangan limbah yang tidak teratur serta pencemaran udara akibat asap kendaraan bermotor yang semakin banyak. Ini semua dapat menyebabkan gangguan bagi makhluk hidup di Kota Jakarta, temasuk manusia. Pernapasan kita dapat terganggu dan keindahan Kota Jakarta tercemar. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita sebagai penduduk Kota Jakarta berusaha untuk melestarikan lingkungan kota ini dengan berbagai macam usaha. Di antaranya adalah dengan penghijauan, pembuatan taman kota, dan pelarangan membuang sampah di sembarang tempat. Ini semua dapat mengendalikan keindahan Kota Jakarta.

Sabtu, 19 Mei 2012

Ejaan Yang Disempurnakan
A.    Pemakaian Huruf
1.    Huruf abjad. Ada 26 yang masing-masing memiliki jenis huruf besar dan kecil.
2.    Huruf vokal. Ada 5: a, e, i, o, dan u. Tanda aksen é dapat digunakan pada huruf e jika ejaan kata menimbulkan keraguan.
3.    Huruf konsonan. Ada 21: b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
1.    Huruf c, q, v, w, x, dan y tidak punya contoh di akhir kata.
2.    Huruf x tidak punya contoh di tengah kata.
3.    Huruf q dan x digunakan khusus untuk nama dan keperluan ilmu.
4.    Diftong. Ada 3: ai, au, dan oi.
5.    Gabungan konsonan. Ada 4: kh, ng, ny, dan sy.
6.    Pemenggalan kata
1.    Kata dasar
1.    Di antara dua vokal berurutan di tengah kata (diftong tidak pernah diceraikan): ma-in.
2.    Sebelum huruf konsonan yang diapit dua vokal di tengah kata: ba-pak.
3.    Di antara dua konsonan yang berurutan di tengah kata: man-di.
4.    Di antara konsonan pertama dan kedua pada tiga konsonan yang berurutan di tengah kata: ul-tra.
2.    Kata berimbuhan: Sesudah awalan atau sebelum akhiran: me-rasa-kan.
3.    Gabungan kata: Di antara unsur pembentuknya: bi-o-gra-fi
7.    Huruf kapital
1.    Huruf pertama pada awal kalimat
2.    Huruf pertama petikan langsung
3.    Huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan
4.    Huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang (tidak berlaku jika tidak diikuti nama orang)
5.    Huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau pengganti nama orang, nama instansi, atau nama tempat (tidak berlaku jika tidak diikuti nama orang, instansi, atau tempat)
6.    Huruf pertama unsur-unsur nama orang (tidak berlaku untuk nama orang yang digunakan sebagai nama sejenis atau satuan ukuran)
7.    Huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa (tidak berlaku untuk nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan)
8.    Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah (tidak berlaku untuk peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama)
9.    Huruf pertama nama geografi (tidak berlaku untuk istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri dan nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis)
10.    Huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti "dan" yang tidak terletak pada posisi awal, termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna
11.    Huruf pertama kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti "dan" yang tidak terletak pada posisi awal, termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna
12.    Huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan. Gelar akademik: Kepmendikbud 036/U/1993.
13.    Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan (tidak berlaku jika tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan)
14.    Huruf pertama kata ganti Anda
8.    Huruf miring
1.    Nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan
2.    Huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata yang ditegasan atau dikhususkan
3.    Kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya
B.    Penulisan Kata
1.    Kata dasar. Ditulis sebagai satu kesatuan
2.    Kata turunan
1.    Ditulis serangkai dengan kata dasarnya: dikelola, permainan
2.    Imbuhan ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya, tapi unsur gabungan kata ditulis terpisah jika hanya mendapat awalan atau akhiran: bertanggung jawab, garis bawahi
3.    Imbuhan dan unsur gabungan kata ditulis serangkai jika mendapat awalan dan akhiran sekaligus: pertanggungjawaban
4.    Ditulis serangkai jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi: adipati, narapidana
5.    Diberi tanda hubung jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital: non-Indonesia
6.    Ditulis terpisah jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar: maha esa, maha pengasih
3.    Kata ulang. Ditulis lengkap dengan tanda hubung: anak-anak, sayur-mayur
4.    Gabungan kata
1.    Ditulis terpisah antarunsurnya: duta besar, kambing hitam
2.    Dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan untuk mencegah kesalahan pengertian: alat pandang-dengar, anak-istri saya
3.    Ditulis serangkai untuk 47 pengecualian: acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, astagfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, darmasiswa, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, keratabasa, kilometer, manakala, manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna, radioaktif, sastramarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturahmi, sukacita, sukarela, sukaria, syahbandar, titimangsa, wasalam
5.    Kata ganti
1.    Ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya: kusapa, kauberi
2.    Ku, mu, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya: bukuku, miliknya
6.    Kata depan. di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali daripada, kepada, kesampingkan, keluar, kemari, terkemuka
7.    Kata sandang. si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya: sang Kancil, si pengirim
8.    Partikel
1.    Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya: betulkah, bacalah
2.    Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya: apa pun, satu kali pun
3.    Partikel pun ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya untuk adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun
9.    Singkatan dan akronim
1.    Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik: A.S. Kramawijaya, M.B.A.
2.    Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik: DPR, SMA
3.    Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik: dst., hlm.
4.    Singkatan umum yang terdiri atas dua huruf diikuti tanda titik pada setiap huruf: a.n., s.d.
5.    Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik: cm, Cu
6.    Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital: ABRI, PASI
7.    Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital: Akabri, Iwapi
8.    Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil: pemilu, tilang
10.    Angka dan lambang bilangan. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor yang lazimnya ditulis dengan angka Arab atau angka Romawi.
1.    Fungsi
1.    menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi (ii) satuan waktu (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas,
2.    melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat,
3.    menomori bagian karangan dan ayat kitab suci,
2.    Penulisan
1.    Lambang bilangan utuh dan pecahan dengan huruf
2.    Lambang bilangan tingkat
3.    Lambang bilangan yang mendapat akhiran -an
4.    Ditulis dengan huruf jika dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan
5.    Ditulis dengan huruf jika terletak di awal kalimat. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat
6.    Dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca bagi bilangan utuh yang besar
7.    Tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi
8.    Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat
C.    Penulisan Tanda Baca
1.    Tanda titik
1.    Dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan
2.    Dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar (tidak dipakai jika merupakan yang terakhir dalam suatu deretan)
3.    Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu
4.    Dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka
5.    Dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya (tidak dipakai jika tidak menunjukkan jumlah)
6.    Tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya
7.    Tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat
2.    Tanda koma
1.    Dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan
2.    Dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan
3.    Dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya (tidak dipakai jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya)
4.    Dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi
5.    Dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat
6.    Dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat (tidak dipakai jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru)
7.    Dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan
8.    Dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka
9.    Dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki
10.    Dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga
11.    Dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka
12.    Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi
13.    Dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca
3.    Tanda titik koma
1.    Dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara
2.    Dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk
4.    Tanda titik dua
1.    Dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian (tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan)
2.    Dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian
3.    Dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan
4.    Dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan
5.    Tanda hubung
1.    Dipakai untuk menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris (Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris)
2.    Dipakai untuk menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris (Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris)
3.    Dipakai untuk menyambung unsur-unsur kata ulang
4.    Dipakai untuk menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal
5.    Dapat dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata
6.    Dipakai untuk merangkaikan (i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (ii) ke- dengan angka, (iii) angka dengan -an, (iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (v) nama jabatan rangkap
7.    Dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing
6.    Tanda pisah
1.    Dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat
2.    Dipakai untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas
3.    Dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti 'sampai ke' atau 'sampai dengan'
4.    Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya
7.    Tanda elipsis
1.    Dipakai dalam kalimat yang terputus-putus
2.    Dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan
3.    Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat
8.    Tanda tanya
1.    Dipakai pada akhir kalimat tanya
2.    Dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya
9.    Tanda seru
1.    Dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat
10.    Tanda kurung
1.    mengapit keterangan atau penjelasan
2.    mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan
3.    mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan
4.    mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan
11.    Tanda kurung siku
1.    mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli
2.    mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung
12.    Tanda petik
1.    mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain
2.    mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat
3.    mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus
4.    Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
5.    Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat
6.    Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris
13.    Tanda petik tunggal
1.    mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain
2.    mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing
14.    Tanda garis miring
1.    dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim
2.    dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap
15.    Tanda penyingkat
1.    menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun


MACAM - MACAM MAJAS
A.    Majas Perbandingan

1.    Majas Personifikasi adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan memberitakan sifat-sifat manusia kepada yang mempunyai sifat seperti manusia atau beda hidup.
contoh:
a.    Baru 3 km berjalan mobilnya sudah batuk-batuk.
b.    Angin berbisik menyampaikan salamku padanya.
2.    Majas Metafora adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan perbandingan langsung dan tepat atas dasar sifat yang sama atau hampir sama.
contoh:
a.    Raja siang telah prgi ke peraduannya (raja siang = matahari).
b.    Dewi malam telah keluar dari balik awan (dewi malam = bulan).
3.    Majas Eufimisme adalah majas perbandign yang melukiskan sesuatu dengan kata-kata yang lebih lembut untuk meggantikan kata-kata lain untuk sopan santun atau tabu bahasa (pantang).
contoh:
a.    para tuna karya perlu perhatin yang serius dari pemerintah
b.    orang ini berubah akal
4.    Majas Alegori adalah majas perbandingan yang memperihatikan satu perbandingan utuh; perbandingan itu membentuk kesatuan yang menyeluruh.
contoh:
hidup ini bagaikan perahu yang tengah berlayar di lautan:
suami : nahkoda
istri : jurumudi
gelombang : cobaan dalam kehidupan
tanah seberang : cita-cita
5.    Majas Hiperbola adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan mengganti peristiwa atau tindakan sesungguhnya dengan kata-kata yang lebih hebat pegertiannya untuk menyangatkan arti.
contoh:
a.    harga bensin membumbung tinggi.
b.    kakak membanting tulang demi menghidupi keluarganya.
6.    Majas Simbolik adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan menggunakan benda-benda lain sebagai pebandingan
contoh:
a.    ia adalah seorang lintah darat (lintah darat: pemeras, pemakan riba).
7.    Majas Litotes adalah majas perbandingan yang melukiskan keadaan dengan kata-kata yang belawanan artinya dengan kenyataan yang sebenarnya guna merendahkan diri.
contoh:
a.    perjuangan kami hanyalah setitik air dalam samudera luas.
8.    Majas  Alusio adalah majas prbndingan dengan menggunakan ungkaan pribhasa yang artinya sudah diketahui umum
contoh:
ah dia itu tong kosong nyaring bunyinya.

B.    Majas Sindiran

1.    Majas Ironi adalah majas sindiran yang melukiskan sesuatu dengan menyatakan sebaliknya dari yang sebenarnya dengan maksud untuk menyindir orang
contoh:
a.    harum benar baumu sore ini!
2.    Majas Sinisme adalah gaya sindiran dengan mempergunakan kata-kata sebaliknya seperti ironi tetapi kasar
contoh:
a.    muntah aku melihat perangaimu yang ta pernah berubah!
3.    Majas Sarkasme ialah majas sindiran yang terkasar langsung menusuk perasaan
contoh:
a.    otakmu memang otak udang!

C.    Majas Penegasan

1.    Majas Pleonasme adalah majas yang mempergunakan sepatah kata yang sebenarnya tidak perlu dikatakan lagi karena arti kata tersebut sudah terkandung dalam kata yang diterangkan.
contoh:
a.    saya melihat dengan mata kepala sendiri peristiwa itu
b.    salju putih itu sudah mulai turun ke bawah.
2.    Majas Repetisi ialah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mengulang kata atau beberapa kali, yang biasanya dipergunakan dalam pidato.
contoh:
a.    cinta adalah kebahagiaan, cinta adalah keindaan, cinta adalah pengorbanan.
3.    Majas Tautologi adalah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan kata-kata yang sama artinya (bersinonim) untuk mempertegas arti.
contoh:
a.    saya khawatir dan was-was akan keselamatannya.
4.    Majas Simetri ialah majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan 1 kata, kelompok kata atau kalimat yang diikuti oleh kata, kelompok kata atau kalimat yang seimbang artinya dengan yang pertama.
contoh:
a.    ayah diam serta tak suka berkata-kata
5.    Majas Retorik ialah majas penegasan dengan mempergunakan kalimat tanya yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban karena sudah diketahuinya.
contoh:
a.    mana mungkin orang mati hidup kembali?

D.    Majas Pertentangan

1.    Majas Antitesis adalah majs pertentangan yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan paduan kata yang berlawanan arti.
contoh:
a.    hidup matinya manusia ada ditangan tuhan
2.    Majas Paradoks ialah majas pertentangan yang melukiskan sesuatu seolah-olah bertentangan, padahal sesungguhnya tidak karna objeknya bertentangan.
contoh:
a.    hatinya sunyi tinggal di kota jakarta yang ramai.
3.    Majas Okupasi adalah majas pertetangan yang melukiskan sesuatu dengan bantahan, tetapi kemudian diberi penjelasan atau diakhiri dengan kesimpulan.
contoh:
a.    merokok itu merusak kesehatan, tetapi si perokok tidak dapat menghentikan kebiasaannya. Maka muncullah pabrik-pabrik rokok karena untungnya banyak
4.    Majas Kontradiksi intermiris adalah majas pertentangan yang meperlibatkan pertentangan dengan penjelasan semula.
contoh:
a.    semua murid kelas ini hadir, kecuali Hasan yang sedang ikut olympiade.



CONTOH PIDATO

Ass. Wr. Wb

Yang Terhormat...

Juga para hadirin yang saya...

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada panitia acara ... dalam rangka menyambut hari tanpa tembakau sedunia yang jatuh pada tanggal 31 mei setiap tahunya, yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk menyampaikan pidato singkat ini dalam rangka mewujudkan hari bebas rokok ini menjadi benar-benar bisa menjadi hari yang terbebas dari asap rokok selamanya.


Rekan-rekan sekalian yang saya hormati,

Bukan menjadi rahasia umum lagi dan tidak harus dupungkiri lagi kalau dikalangan para perokok sebetulnya udah mengetahui ataupu merasakan dampaknya dari bahaya merokok tersebut, namun mereka seolah menutup mata dengan bermacam alasan, Padahal, asap rokok secara ilmiah sudah terbukti menyebabkan setidaknya 25 jenis penyakit. Artinya, saat berbagai negara — termasuk negara berkembang — memperketat peraturan soal rokok untuk melindungi kesehatan rakyatnya, namun Indonesia justru menjadi surga bagi industri rokok.


Rekan-rekan sekalian yang saya hormati,

Meskipun udah banyak perda-perda yang dikeluarkan dan udah banyak peraturan dan larangan yang telah diberlakukan, misalnya "Larangan Merokok Ditempat Umum", tapi tidak sedikit pula atau banyak para perokok tidak mentaati peraturan yang telah berlaku tersebut, oleh karena itu, kita sebagai warga negara yang baik dan juga peduli akan kesehatan, marilah kita wujudkan hidup sehat tanpa asap rokok diawali dari diri kita sendiri.

Rekan-rekan sekalian yang saya Hormati,

Berbicara soal dampak yang diakibatkan dari asap rokok yang terhirup oleh orang-orang disekitar kita, marilah kita lihat hasil penelitian yang dilakukan oleh EPA... Nasib kaum ibu bersuamikan perokok agaknya tak berbeda jauh dengan anak-anak yang memiliki keluarga perokok. Penelitian yang dilakukan EPA menghasilkan kesimpulan bahwa dari 30 wanita, 24 di antaranya berisiko tinggi terserang kanker paru-paru bila suaminya perokok. Oleh karena itu, bila kita sayang dengan orang-orang yang ada disekitar kita, dengan kesadaran sendiri, marilah kita buat peraturan-peraturan yang kita buat sendiri untuk diri kita sendiri dan untuk orang-orang yang berada disekitar kita agar terbebas dari dampak yang diakibatkan oleh diri kita sendiri.




rekan-rekan sekalian yang saya hormati.

Salah satu proses yang memang belum berdampak pada penampilan fisik perokok adalah gangguan pada sistem sirkulasi darah, yang akhirnya memicu penyakit jantung. hal ini disebabkan karena di dala rokok terdapat beberapa bahan kimia yang ada dalam rokok. Di antaranya, acrolein, merupakan zat cair yang tidak berwarna, seperti aldehyde. Zat ini sedikit banyaknya mengandung kadar alkohol. Artinya, acrolein ini adalah alkohol yang cairannya telah diambil. Cairan ini sangat mengganggu kesehatan.

Rekan-rekan sekalian yang saya hormati

Karena waktu yang sangat terbatas, saya ucapkan terima kasih kepada panita yang telah memberikan waktu kepada saya untuk menyampaikan pidato singkat ini. Mudah-mudahan dihari bebas tembakau sedunia ini, kita akan lebih menyayangi diri kita sendiri dengan dimulai dari menyehatkan diri sendiri.

Semoga uraian ini bermanfaat. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.


Wassalamu alaikum wr. wb.

Semangat dan selalu hidup dengan gaya hidup yang sehat dan bermutu.